Danai Jokowi Rp 60 Miliar, Edward Soeryadjaya Dapat Proyek Monorail Ja

13 Feb 2013

2d74d6ca4e020dcfcde4adc207594c33_edward

Ingin kaget dan terhenyak mendengar nama Edward Soeryadjaya, sang terduga koruptor dalam kasus Depo Minyak Pertamina di Balaraja, dadakan memenangkan tender penggarapan proyek Monorail Jakarta.

Kenyataannya, saya tidak kaget. Bahkan terhenyak pun tidak, kenapa?

Semua sudah tahu, Edward Soeryadjaya adalah salah satu donatur besar kampanye Jokowi Ahok pada Pilkada DKI September 2012 lalu. Berita ini cukup ramai disorot pada masa Pilkada. Bahkan Edward Soeryadjaya pun mengakui adanya sumbangan dana miliaran kepada Jokowi Ahok seperti tertuang dalam laporan Ari Purwanto dari Rakyat Merdeka dalam peliputannya pada 30 Juli 2012.

Berapa sih dana yang dikucurkan Edward Soeryadjaya untuk pasangan Jokowi Ahok? Konon mencapai angka Rp 60 miliar, atau 25% lebih rendah dari donasi yang dikucurkan pengusaha properti yang kini menjadi Menteri Perumahan Rakyat, Djan Faridz sebesar Rp 80 miliar untuk pasangan Jokowi Ahok.

Hah? Masak sih untuk biaya kampanye Pilkada bisa mencapai angka ratusan miliar?

Jangan heran, untuk Pilkada atau pemilihan kepala daerah di tingkat provinsi, rata-rata dana yang dihabiskan untuk merayu massa memilih masing-masing pasangan yang maju berkisar di angka Rp 100 200 miliar. Untuk DKI Jakarta sebagai ibukota negara, maklum saja kalau melebihi angka Rp 200 miliar. Kalau untuk level Pilkada Bupati/Walikota angkanya berkisar antara Rp 10 30 miliar.

Wow !

Pertanyaannya kemudian, kenapa para pengusaha berbondong-bondong mengucurkan dana kepada pasangan-pasangan yang dijagokan? Apa yang mereka dapat nantinya?

Tak sulit menebak jawabannya. Pastilah berkenaan dengan keamanan bisnis dan peluang memperoleh proyek-proyek strategis yang sejalan dengan bisnis si donatur.

Terkait donasi Djan Faridz sebesar Rp 80 miliar dan Edward Soeryadjaya sebesar Rp 60 miliar kepada Jokowi Ahok, terindikasi jelas sebagaimana pernah ditulis Tempo dan Kompas bahwa Djan Faridz mengincar perpanjangan kontrak Pasar Tanah Abang dan kelanjutan proyek-proyek properti miliknya di DKI, sedangkan Edward Soeryadjaya mengincar proyek pengembangan Jakarta Fair, Kemayoran dan Monorail Jakarta. Seluruh proyek-proyek yang diincar 2 donatur besar Jokowi Ahok ini bernilai triliunan rupiah, sehingga wajar mereka berani kucurkan ratusan miliar untuk kemenangan Jokowi Ahok di DKI.

Semula, banyak yang meragukan, apa betul Jokowi Ahok akan melakukan itu kepada donatur-donaturnya. Tapi toh kenyataannya demikian. Pada 20 Desember 2012, atau 3 bulan usai kemenangannya di DKI Jakarta, Jokowi menyatakan kepada media bahwa Edward Soeryadjaya paling berpeluang memenangkan tender proyek Monorail Jakarta.

Dan kemarin, 12 Februari 2013, ramai pemberitaan bahwa Edward Soeryadjaya memenangkan tender proyek Monorail Jakarta.

Hmm.. Jelas !

Satu kabar kabur telah menjadi fakta. Masih ada beberapa kabar kabur lagi seperti perpanjangan kontrak Pasar Tanah Abang dan kelanjutan proyek-proyek properti di DKI untuk Djan Faridz, serta penggarapan proyek pengembangan kawasan Jakarta Fair untuk Edward Soeryadjaya.

Jika ini juga terjadi, maka benarlah asumsi yang berspekulasi sebelumnya, yaitu Jokowi Ahok pun tunduk pada kepentingan pengusaha. Istilah kasarnya, ada paket terima kasih dari Jokowi Ahok berupa proyek bernilai triliunan rupiah kepada para donaturnya yang telah berbaik hati memberikan dana dukungan kampanye ratusan miliar rupiah. Tentunya untuk melanggengkan kekuasaan bisnis mereka.

Repost from here


TAGS jokowi edward monorail jakarta


-

Author

Follow Me


Categories

Archive